4rss

Golok Bulan Sabit – 01

In Cerita Silat on August 21, 2008 at 4:45 am

1
Seorang Gadis Bugil

Fajar baru saja menyingsing, kabut menyelimuti seluruh permukaan bumi, kabut yang sangat tebal.
Ting Peng mendorong daun jendela ruangannya, kabut tebal yang putih melayang masuk dan menerpa wajahnya.
Ia berparas tampan, bertubuh gagah, sehat, penuh semangat hidup dan perkasa, sewaktu tertawa, seringkali memperlihatkan kepolosan seorang bocah, seakan-akan seorang bocah lelaki yang baru tumbuh menjadi dewasa.
Tapi Ting Peng sudah bukan kanak-kanak.
Pada bulan tiga, secara beruntun dia telah mengalahkan tiga jago pedang yang paling tersohor dalam dunia persilatan.
Bila sinar matahari dan air membuat tumbuhan tumbuh dengan subur, maka kemenangan serta keberhasilan membuat seorang bocah laki-laki cepat tumbuh menjadi dewasa dan matang.
Sekarang, bukan saja ia telah menjadi seorang lelaki yang sejati, lagi pula amat mantap, tegas dan penuh dengan kepercayaan pada diri sendiri.
Dia dilahirkan pada bulan tiga, tahun ini genap sudah duapuluh tahun, pada ulang tahunnya yang keduapuluh itulah dengan sebuah jurus Thian-gwa liuseng (Meteor dari Luar Angkasa) ia berhasil mengalahkan Si Teng seorang jago pedang kenamaan dari kota Poteng.
Si Teng adalah seorang jago lihay dari Cingpeng-kiam aliran utara, dengan kemenangan tersebut ia memberi hadiah ulang tahun dirinya sendiri.
Pada bulan empat, sekali lagi ia berhasil mengalahkan Tuihong-kiam (Pedang Pengejar Angin) Kek Khi dengan jurus Thian-gwa liuseng.
Kek Khi adalah murid tertua dari partai Hoasan, ilmu pedangnya cepat lagi ganas, setiap kali melepaskan serangan tentu buas dan mematikan, dia adalah seorang laki-laki yang angkuh.
Tapi setelah pertarungan itu, dia dapat dikalahkan dengan hati yang puas, kepada umum dia mengakui,
“Sekalipun aku berlatih sepuluh tahun lagi, belum tentu bisa kuhadapi serangan tersebut.”
Bulan lima, ciangbunjin dari Thikiam-bun (Perguruan Pedang Baja), Siongyang kiamkek (Jago Pedang dari Siongyang) Kwik Tinpeng dikalahkan pula dengan jurus Thian-gwa liuseng.
Terhadap jurus pedang serta manusianya, Kwik Tinpeng memberi komentar,
“Dia betul-betul seorang pemuda yang jarang ditemukan di kolong langit, dalam setahun mendatang, pemuda ini pasti akan tersohor dalam dunia persilatan dan merupakan seorang pemimpin yang cakap.”
Walaupun perguruan Thikiam-bun tidak terhitung suatu perguruan yang besar dan ternama, namun mereka mempunyai sejarah yang cukup lama.
Kwik Tinpeng sebagai seorang ciangbunjin ternyata mengucapkan kata-kata tersebut, sudah barang tentu ucapannya sangat berbobot.
Hingga sekarang, acapkali Ting Peng merasa bangga dan gembira setiap kali teringat akan perkataan tersebut.
“Tersohor dalam dunia persilatan sebagai seorang pemimpin yang cakap.”
Sudah tigabelas tahun ia melatih diri secara tekun, setiap hari berlatih selama hampir tujuh jam lamanya, membuat telapak tangan maupun telapak kakinya menjadi lecet-lecet dan terluka.
Apalagi di malam musim salju yang dingin, untuk membangkitkan semangatnya, kerap kali ia mempersiapkan segumpal bongkahan es, bila merasakan dirinya menjadi malas, maka gumpalan es itu disusupkan ke dalam celana sendiri. Tentu saja siksaan seperti itu tak akan bisa dibayangkan oleh orang lain.
Ia begitu menyiksa dirinya, karena ia bertekad hendak menjadi terkenal, melampiaskan rasa kecewa dari ayahnya yang sepanjang hidupnya tak pernah berhasil.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: