4rss

Legenda Bulan Sabit – 01

In Cerita Silat on September 12, 2008 at 2:48 am

1
Semangkok Mie Yang Aneh

Satu malam di musim semi. Malam turun hujan. Hujan musim semi di Jiangnan (nama daerah di selatan sungai Yangzi), sering menimbulkan perasaan sedih orang, terlebih bagi orang-orang yang sudah lama dan jauh meninggalkan kampung halamannya.
Malam telah larut sekali, banyak orang telah tidur dan bermimpi, namun di dalam sebuah gang sempit yang becek, ternyata masih ada sebuah lentera yang bersinar redup.
Sebuah lentera yang menjadi kuning karena sering kena asap, tergantung di atas sebuah tenda bambu yang sederhana, menerangi sebuah kedai mie, beberapa meja dan kursi, serta dua orang yang bermuram durja.
Malam hujan yang demikian mengenaskan, gang kecil demikian terpencil, siapakah yang akan membeli mie mereka?
Kerutan di wajah kedua suami istri penjual mie itu menjadi makin dalam.
Tak terduga, dari gang sempit itu tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki, ternyata ada seorang berbaju hijau berjalan sendirian di dalam hujan rintik-rintik dan angin dingin, wajahnya pucat kekuning-kuningan, tampak seperti seorang yang sudah lama menderita sakit parah, yang seharusnya minum obat dengan berbaring di ranjang sambil diselimuti.
Tetapi dia berkata kepada si pemilik kedai mie itu: “Aku mau makan mie, tiga mangkok mie, tiga mangkok yang besar”.
Orang yang macamnya begini ternyata punya selera makan yang besar.
Tidak heran si pemilik kedai dan istrinya memandang dia dengan pandangan curiga, dan bertanya: “Tuan mau makan mie apa?”
Si nyonya pemilik, yang walaupun usianya sudah 30-an, tetap bertubuh langsing, bertanya: “Mau mie sawi putih? Mie abon? Atau mie kaki babi?”
“Semuanya aku tidak mau”, si orang berbaju hijau berkata dengan nada rendah yang parau: “Aku mau dua mangkok bunga emas, satu mangkok bunga perak, dan satu mangkok bunga mutiara”.
Tetapi sedikit tanda keheranan pun tidak terlihat di wajah kedua suami istri itu, cuma bertanya dengan sikap tak acuh: “Apakah engkau punya kemampuan untuk memakannya?”
Si orang berbaju hijau pun berkata dengan sikap tak acuh: “Akan ku coba”.
Tiba-tiba, sinar dingin berkelebat, sebilah pedang panjang muncul seperti ular berbisa dari sisi tangan si orang berbaju hijau, menikam seperti ular berbisa ke arah uluhati si pemilik kedai yang tampaknya lamban itu, gerakannya lebih cepat dan lebih ganas dari ular berbisa!
Si pemilik kedai sedikit memutar badan, sebuah sumpit bambu besar dipakai sebagai senjata penotok jalan darah, menotok ke arah jalan darah di bahu lawan.
Pergelangan tangan si orang berbaju hijau sedikit bergetar, sinar dingin makin terang, ujung pedang telah mengenai uluhati si pemilik kedai, namun berbunyi “ting” sekali, seolah-olah menikam sebuah papan besi!
Ujung pedang berkelebat lagi, lalu pedang masuk sarung pedang, si orang berbaju hijau ternyata tidak mengejar lagi, hanya dengan sikap yang tenang memandangi kedua suami istri itu.
Si nyonya pemilik mulai tersenyum, sebuah wajah yang biasa-biasa saja, namun karena senyuman, ternyata memiliki daya pikat yang cukup besar!
“Bagus! Ilmu pedang yang bagus! “Dia berkata sambil mengeluarkan sebuah kursi dari tenda bambu, “silahkan duduk dan makan mie”.
Si orang berbaju hijau duduk tanpa bersuara, semangkok mie yang masih mengepulkan uap panas segera diantarkan.
Di dalam mangkok itu tidak ada sawi putih, abon maupun kaki babi, bahkan mie pun tidak ada, namun ada sebutir mutiara kemilau yang sebesar buah lengkeng!
Di kedai kecil dalam gang sempit dan jelek itu, yang dijual ternyata adalah mie semacam ini! Dan orang yang mampu makan mie semacam ini sungguh tidak banyak, tetapi orang ini ternyata bukanlah satu-satunya orang yang mampu.
Dia baru saja duduk, datanglah orang kedua, seorang pemuda yang kelihatannya amat tahu aturan, juga mau makan tiga mangkok mie, juga berkata: “mau satu mangkok bunga emas, satu mangkok perak, dan satu mangkok bunga mutiara”.
Si pemilik kedai tentu saja mau menguji dia, ”punyakah kemampuan untuk memakannya?”
Dia mempunyainya.
Ilmu pedang si pemuda, meskipun sama tahu aturan dengan orangnya, namun sangat cepat, tepat dan efektif, bahkan jurus-jurusnya saling bersambungan, sekali pedang digerakkan, pasti tiga jurus susul-menyusul, tidak lebih banyak, juga tidak lebih sedikit.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: