4rss

Golok Bulan Sabit – 03

In Cerita Silat on September 15, 2008 at 6:32 am

Hari ini adalah bulan enam tanggal limabelas.
Hasil dari pertarungan hari ini, akan menentukan nasib serta masa depannya di kemudian hari.
Pakaian yang semalam ia cuci sendiri digantungkan pada tiang jemuran di mulut jendela, kini sudah hampir kering.
Walaupun belum mengering sama sekali, setelah dikenakan di badan, dengan cepat akan mengering sendiri.
Pakaian ini merupakan satu-satunya pakaian yang dia miliki, pakaian yang dibuat oleh ibunya sendiri menjelang kepergiannya dulu, sekarang warnanya sudah luntur, bahkan di sana sini penuh dengan tambalan, tapi asal selalu dicuci dan kering ia masih bisa mengenakannya untuk berjumpa dengan siapa pun.
Miskin bukan sesuatu yang memalukan, malas dan dekil baru sesuatu yang memalukan.
Setelah berpakaian, dari bawah bantalnya kembali ia mengeluarkan sebuah kocek yang terbuat dari kain biru.
Dalam kocek hanya tinggal sekeping kecil hancuran perak.
Inilah seluruh harta yang dimiliki, setelah dibuat untuk membayar ongkos penginapan, yang tersisa pun paling cuma beberapa puluh rence uang tembaga.
Biasanya ia selalu tidur di tempat-tempat yang tak perlu membayar uang sewa, seperti di kolong meja altar dalam kuil atau rumput di tengah hutan….
Tapi demi keberhasilannya dalam pertempuran hari ini, dengan perasaan terpaksa dia memasuki penginapan kecil itu, sebab dia membutuhkan tidur yang nyenyak dan nyaman, dengan begitu badannya baru akan memiliki semangat serta kekuatan yang segar, dalam kondisi seperti ini dia baru akan berhasil memenangkan pertarungan itu.
Setelah membayar rekening penginapan, sambil mengigit bibir kembali ia membeli setengah kati daging sapi, sepuluh potong tahu kering, sebungkus besar kacang tanah dan lima bakpao besar dengan menggunakan sisa uang yang dimilikinya.
Baginya, makanan tersebut bukan saja merupakan suatu makanan yang mewah dan berlebihan, lagi pula ia menganggap sebagai suatu pemborosan yang tak boleh diampuni, sebab di hari-hari biasa dia hanya makan kue keras yang cukup dibeli dengan uang tiga rence tembaga tapi cukup untuk mengisi perut selama sehari penuh.
Tapi hari ini, ia bertekad untuk memaafkan dirinya satu kali, hari ini ia membutuhkan tenaga yang besar, hanya makan makanan yang lezat baru akan timbul kekuatan yang segar.
Apalagi setelah lewat hari ini, besar kemungkinan keadaannya akan sama sekali berbeda.
Nama besar bukan saja dapat mendatangkan kebanggaan serta martabat, dapat pula mendatangkan banyak hal yang biasanya tak pernah kau duga, harta kekayaan dan kedudukan mungkin juga akan turut berdatangan semua.
Dia cukup memahami akan hal ini, maka dia hanya mengertak gigi menahan kemiskinan serta kelaparan yang menimpa dirinya selama ini.
Dia tak rela membuat nama baiknya ternoda karena suatu persoalan yang tidak cemerlang, dia bertekad untuk mencari nama melalui jalan yang lurus dan jujur.
Sekarang jaraknya dengan tengah hari tinggal dua jam lebih, ia bertekad untuk mencari suatu tempat yang nyaman untuk menikmati hidangan-hidangan lezat ini.
Di sebuah tanah perbukitan dekat dengan perkampungan Siangsiong sanceng, ia menemukan suatu sumber mata air. Di sana ada tanah berumput, ada bunga-bunga yang merah, ada tempat yang rindang, pepohonan yang lebat serta udara yang bersih.
Kabut yang tebal baru saja membuyar, sang surya baru muncul di awang-awang, butiran embun menghiasi dedaunan yang hijau, berkilat-kilat menyerupai mutiara.
Ia duduk di atas tanah rumput yang lunak, merobek daging sapi itu dan melahapnya, rasa daging sapi ternyata jauh lebih sedap daripada apa yang pernah dibayangkannya dulu.
Ia merasa amat riang dan gembira.
Pada saat itulah, seorang gadis muda yang cantik seperti seekor domba yang sedang dikejar harimau lapar, berlarian mendekat dan menyusup masuk ke tempat di mana ia berada.
Itulah seorang gadis yang berada dalam keadaan bugil, tak sehelai benang pun menutup tubuhnya.
Gadis itu masih sangat muda, cantik lagi. Ting Peng merasa napasnya seakan-akan ikut terhenti, jantungnya berdebar tiga kali lipat lebih keras dari keadaan biasa.
Selama hidup, belum pernah ia mendekati perempuan.
Dalam desanya bukan tidak ada gadis yang muda, dia pribadi pun bukan tak punya keinginan atau nafsu berahi.
Tapi ia selalu berusaha untuk mengendalikan diri, cara apa pun pernah dilakukan olehnya dari menyusupkan gumpalan es ke dalam celananya, sampai membenamkan kepala dalam air dingin, menusuk kaki dengan jarum, lari naik gunung, berjumpalitan.
Tapi sekarang, secara tiba-tiba menyaksikan seorang gadis telanjang, seorang gadis muda yang cantik jelita bertelanjang bulat tepat di depan matanya.
Kulit badan yang putih bersih, payudara yang kecil tapi kencang, sepasang paha yang putih mulus, celah merah yang diliputi hutan bakau….
Dengan menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya, ia berhasil mengalihkan sorot matanya ke arah lain, ia tak berani memandang gadis itu terlalu lama, terutama memandang sepasang payudaranya yang kecil tapi kenyal serta bagian “rahasia”nya yang kehitam-hitaman….
Mendadak gadis itu menghampirinya, menarik-narik tangannya dan berbisik dengan napas terengah,
“Tolonglah aku, kau harus menolong aku.”
Begitu dekat ia menempel di tubuhnya membuat dengusan napasnya yang hangat dan harum terendus dalam hidungnya, bahkan ia dapat merasakan pula debaran jantung dara tersebut.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: