4rss

Legenda Bulan Sabit – 02

In Cerita Silat on September 15, 2008 at 6:35 am

Sinar pedang berkelebat, “ting-ting-ting” tiga kali bunyi, uluhati si pemilik kedai sudah kena pedang tiga kali ilmu pedang yang digunakan si pemuda tahu aturan ini, ternyata lebih cepat tiga kali dari dugaan siapapun!
Si pemilik kedai air mukanya berubah, tetapi istrinya tersenyum gembira. Ketika si pemuda melihat senyumannya, tiba-tiba sinar matanya memancarkan nafsu birahi yang tak seharusnya dimiliki orang yang tahu aturan.
Si nyonya tersenyum makin memikat. Dia senang ada pria muda yang memandangnya dengan sinar mata demikian, tapi tiba-tiba saja senyumannya membeku di wajah.
Sorot mata si pemuda juga jadi dingin, seolah-olah merasakan ada hawa dingin yang menghimpit.
Pedangnya sudah disarungkan, namun telapak tangannya masih menggenggam gagang pedang dengan erat, memutar badan dengan pelan, lalu melihat ada seorang berlengan satu, yang walaupun tubuhnya kurus seperti galah bambu, namun memiliki bahu yang luar biasa lebarnya, sedang berdiri di dalam hujan yang rintik-rintik, di punggungnya memanggul dengan miring sebuah galah bambu, sebuah capil anyaman bambu dipakai sampai di bawah alis, yang kelihatan cuma setengah mata kiri, yang memandang tajam ke si pemuda, dan bertanya dengan sebuah kata demi sebuah kata: “Apakah kamu adalah muridnya Fang Zheng “Si Pedang Besi?”
“Ya”.
“Kalau begitu datanglah ke sini.”
“Mengapa aku mesti kesana? Untuk apa?”
“Ke sini agar aku membunuhmu.”
Tiba-tiba capil terbang masuk ke kejauhan yang gelap, sehingga sinar lentera yang redup menerangi wajah si orang berlengan satu, sebuah wajah yang penuh dengan bekas luka, di mata kanannya pun ada sebuah bekas luka berbentuk ‘+’, yang membuat keseluruhan mata ini tertutup rapat, malahan membuat sorot mata di mata yang lain menjadi tambah tajam.
Telapak tangan si pemuda yang memegang pedang sudah keluar keringat dingin. Sudah teringat olehnya siapakah orang ini!
Dia juga tahu bekas luka yang berbentuk “+” itu terjadi karena ilmu pedang apa!
Si orang berlengan satu sudah menjulurkan tangan yang besar namun sangat kurus dan kelihatan ototnya, untuk mengambil galah bambu hitam gelap yang ada di belakang bahunya.
Tetapi tiba-tiba si nyonya pemilik melewati kedai mie dan berjalan kedepannya, sepasang lengan yang lembut, seperti ular saja telah melingkari lehernya si pria berlengan satu, dan sambil berjinjit, kedua bibirnya ditempelkan ke telinganya, dan berkata dengan lirih: “sekarang anda tidak boleh mengusik dia, dia juga adalah orang yang sengaja kucari, seorang yang amat berguna. Setelah urusan ini selesai, anda boleh melakukan apa saja kepadanya, toh ia tidak bisa lari kemana-mana”.
Suaranya dan sikapnya persis seperti bisikan kekasih, suaminya dianggap seperti orang mati saja! Namun si suami juga seolah-olah tidak kelihatan apa-apa.
Si orang berlengan satu menatap si nyonya, mendadak mencengkeram baju depannya, mengangkat si nyonya seperti mengangkat seekor ayam kecil, dan berjalan masuk ke kedai, lalu menurunkanya dengan perlahan, serta berbicara dengan kata demi kata: “Aku mau makan mie, tiga mangkok mie, tiga mangkok besar”.
Si nyonya tersenyum, senyumnya seperti bunga di musim semi, dan berkata: “Ini adalah sandi yang kutetapkan dengan orang lain, tujuannya agar bisa memastikan apakah mereka sungguh adalah orang yang kuundang, tetapi anda beda, sekalipun anda terbakar jadi abu, aku pun tak bisa salah mengenal anda, lalu mengapa anda mengucapkan kata-kata yang bodoh ini?”
Si orang berlengan satu tidak berkata apa-apa lagi, bahkan tidak pernah lagi melihat ke si pemuda, seolah-olah sudah menganggapnya sebagai orang mati.
Tepat pada saat itu, mereka melihat ada seorang lagi berjalan masuk ke gang jelek ini dengan amat santainya.
Seorang yang belum pernah mereka jumpai, dan seorang yang belum pernah mereka bayangkan.
Rupa orang ini sebenarnya tidak aneh, bahkan dapat dikatakan tidak ada sedikit pun yang aneh.
Dia kelihatannya lebih tinggi sedikit dari orang-orang pada umumnya, barangkali lebih tinggi sedikit dari tinggi badannya yang sebenarnya, sebab dia memakai sepasang bakiak tinggi model kuno, walaupun berjalan di dalam gang sempit yang becek, tidak ada sedikit pun lumpur kotor menciprati sepasang kaos kaki putih yang dipakainya.
Pakaiannya meskipun tidak mewah, namun mutu bahan pakaian dan pembuatannya amat bagus, kombinasi warnanya juga membikin orang merasa nyaman.
Dia tidak membawa pedang juga tidak membawa senjata yang lain, tapi membawa sebuah payung kertas minyak yang amat baru. Namun, ketika ia masuk ke gang jelek yang remang-remang ini dengan menerjang hujan gerimis, sepertinya berjalan di dalam taman bunga kekaisaran yang sinar mataharinya cerah sekali dan semua bunga sedang mekar.
Kapan saja, dimana saja, rupanya tak akan berubah, sebab dia adalah orang yang demikian, bahkan di dalam situasi sangat sulit dan bahaya pun juga tak akan berubah.
Makanya di wajahnya sepertinya selalu ada senyuman, sekali pun dia tidak tersenyum, orang lain juga akan merasakan ‘sedang’ tersenyum.
Barangkali inilah satu-satunya keanehan orang ini.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: