4rss

Menanti Perda ASI Eksklusif

In Healthy Life on September 25, 2008 at 7:42 am

Bila kita berjalan-jalan di mal-mal kota Surabaya, seringkali kita temui ibu-ibu yang sedang menyusui bayinya di tengah keramaian. Yah, ibu-ibu yang sedang berbelanja kebutuhan keluarga tersebut tentu tidak mau meninggalkan kewajiban sekaligus haknya memberikan air susu ibu (ASI) kepada bayi mungilnya. Namun tak sedikit, bahkan lebih banyak, ibu-ibu yang memberikan susu botol kepada bayinya. Alasannya beragam. Ada yang malu maaf –bila terlihat payudaranya- dimuka umum. Ada pula yang tak mau repot karena tidak ada tempat yang nyaman untuk menyusui di mal-mal. Itu adalah sekelumit gambaran betapa tidak terakomodirnya kebutuhan ibu-ibu sekaligus anak-anaknya untuk memberi dan mendapatkan ASI eksklusif.

Sebagian besar ibu-ibu memang tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya. Survei yang dilaksanakan Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) pada tahun 2002, menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan hanya 4%-12% dan ASI eksklusif 5-6 bulan hanya 1%-13%.

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003, menunjukkan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya di bawah usia dua bulan masih lumayan banyak (64% dari total bayi yang ada). Namun, persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi. Yakni, hanya 46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-5 bulan. Selain itu, satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan.

Kondisi tersebut tentu membuat kita merasa prihatin. Beberapa kendala sering dikemukakan oleh para pakar terkait rendahnya penerapan ASI eksklusif. Diantaranya adalah kurangnya rasa percaya diri ibu bahwa ASI cukup untuk bayinya; Ibu kembali bekerja setelah cuti bersalin, yang menyebabkan penggunaan susu botol atau susu formula secara dini sehingga menggeser kedudukan ASI. Juga yang tak kalah penting gencarnya promosi susu formula, baik melalui petugas kesehatan maupun melalui mass media, bahkan dewasa ini secara langsung kepada ibu-ibu.

Padahal, pemberian ASI sangatlah bermanfaat. Unicef dalam siaran persnya tahun 2004 mengatakan, ASI bukanlah sekedar makanan tetapi juga penyelamat kehidupan. Setiap tahunnya  lebih dari 25.000 bayi Indonesia dan 1,3 juta bayi di seluruh dunia dapat diselamatkan dengan pemberian ASI eksklusif. Kajian WHO atas lebih dari 3000 penelitian menunjukkan pemberian ASI selama 6 bulan adalah jangka waktu yang paling optimal untuk pemberian ASI eksklusif. Hal ini karena ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bagi bayi untuk bertahan hidup pada 6 bulan pertama, mulai dari hormon, antibodi,  faktor kekebalan hingga antioksidan.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah, ASI penyelamat perekonomian keluarga. Betapa tidak, disaat perekonomian rakyat semakin sulit, dimana harga BBM dan bahan-bahan pokok terus melambung termasuk juga harga susu formula, ibu-ibu bisa berhemat dengan memberikan ASI kepada bayinya. Selain hemat, ibu-ibu juga tak perlu repot mencuci dan merebus botol terlebih dahulu, dan yang tak kalah penting adalah, timbulnya hubungan emosional antara ibu dan bayi.

Karena itu, penggalakan ASI eksklusif yang dilakukan oleh kepala dinas kesehatan kota Surabaya, dengan mendirikan pondok ASI eksklusif di kantor dinas kesehatan, patut diacungi jempol. Namun langkah awal tersebut harus ditindaklanjuti dengan pendirian pondok-pondok ASI eksklusif di instansi lainnya. Setidaknya dimulai dari instansi pemerintah yang ‘berbau’ kesehatan, seperti rumah sakit dan puskesmas. Juga perguruan tinggi yang berbau ‘kesehatan’ seperti fakultas kedokteran dan prodi keperawatan, fakultas kesehatan masyarakat, fakultas kedokteran gigi, sekolah tinggi ilmu kesehatan dan akademi kebidanan. Setelah itu seruan pendirian pondok ASI eksklusif diikuti seluruh instansi pemerintah lainnya dan perusahaan swasta.

Tidak kalah penting adalah tersedianya pojok ASI eksklusif pada ruang-ruang publik dan pusat perbelanjaan. Ruang khusus untuk ibu menyusui tidak akan memakan tempat dan biaya besar karena cukup hanya dengan menyediakan beberapa kursi dan kain penutup.

Karena itu, disinilah pentingnya peraturan daerah. Perda mempunyai kekuatan hukum yang mampu mengikat masyarakat, lembaga serta perusahaan pemerintah dan swasta untuk mematuhinya, dan bila melanggar juga ada sanksi hukumnya. Tetapi, harus diingat pula. Janganlah membuat perda yang asal-asalan. Asal ada, tidak disosialisasikan dan tidak diterapkan. Hal ini penting mengingat banyak sekali produk perda yang ada sebelumnya seperti macan kertas. Isinya tegas tetapi tidak diterapkan.

Salah satu butir yang harus tercantum dalam perda adalah keharusan rumah sakit dan BPS (bidan praktek swasta) untuk menerapkan ASI eksklusif. Selama ini, banyak rumah sakit dan BPS yang menawarkan susu formula (atau bahkan tanpa ditawarkan), kepada ibu-ibu yang baru melahirkan untuk diberikan kepada bayinya. Ibu-ibu yang dalam kondisi lemah seringkali sulit menolak dan membiarkan bayinya diberikan susu formula oleh petugas rumah sakit atau BPS. Padahal pengalaman pertama menyusui bayi adalah momen yang amat penting dan berharga, serta akan mempengaruhi keberlanjutan pemberian ASI kala dirumah, sehingga membutuhkan dukungan kuat dari dokter dan bidan yang menolong persalinan, disamping orang-orang terdekat dari si ibu.

Keharusan rumah sakit dan BPS untuk menerapkan ASI eksklusif, juga harus diikuti dengan sanksi tegas bila mereka tidak melaksanakannya. Sanksi dapat berupa peringatan, denda, hingga pemberhentian izin praktik menolong persalinan. Dinas kesehatan juga perlu secara berkala mengumumkan rumah sakit dan BPS mana saja yang mendukung program ASI eksklusif. Dengan demikian para calon ibu dapat memilih untuk melahirkan dirumah sakit atau BPS tersebut. Selain itu, penghargaan untuk instansi pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan swasta yang mendirikan pondok ASI juga perlu diberikan untuk mendorong instansi lainnya menerapkan program tersebut.

Bila Dinas kesehatan dan DPRD Kota Surabaya mampu mewujudkan perda ASI eksklusif, maka akan menjadi kado terbesar bagi para calon ibu dan calon generasi penerus bangsa yang akan dilahirkan. Penulis yakin, dengan perda tersebut, angka pencapaian ASI eksklusif akan meningkat tajam. Ibu-ibu yang baru melahirkan akan kembali bekerja dengan tenang, dan bayi-bayi yang baru dilahirkan akan tumbuh dengan sehat.

Ingatlah akan konvensi hak-hak anak tahun 1990 yang menegaskan bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak. Berarti ASI selain merupakan kebutuhan, juga merupakan hak azasi bayi yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Hal ini juga telah dipopulerkan pada pekan ASI Sedunia tahun 2000 “Memberi ASI adalah hak azasi ibu; Mendapat ASI adalah hak azasi bayi.

[Siti R. Nadhiroh – Pengajar Gizi FKM Universitas Airlangga]

  1. Bu Siti, saya sangat antusias dengan ASI Eksklusif dan sangat berkeinginan untuk membantu para ibu menjadi sadar sesadar-sadarnya bahwa ASI EKSKLUSIF WAJIB diberikan pada bayinya. Hal ini tentu melalui pemberian pemahaman yang efektif. Pengalaman saya pada saat membimbing mahasiswa di RS….(RS Pemerintah)seluruh bayi yang dilahirkan tidak dilakukan inisiasi menyusui dengan benar, bayi dipisahkan dengan ibu dalam waktu dan indikasi yang tidak jelas, dan yang lebih menyedihkan semua ibu dimejanya disediakan susu formula dicangkir. Perlu ibu tahu di RS tersebut terpasang pamflet tentang pentingnya ASI di beberapa dindingnya..dan RS tersebut sering menjadi tempat pelatihan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ASI. Meskipun dengan perda, apakah kecurangan seperti itu akan dapat terhapus. Saya sudah sering memberikan masukan kepada petugas baik dokter ataupun bidan yg bertugas..tapi mereka hanya saling melempar kesalahan..dan terkadang hanya tersenyum…Saya sangat sedih dan kecewa bu….saya gerakkan mahasiswa saya untuk getol mendampingi ibu-ibu post partum untuk menyusui dan merawat payudaranya yg bermasalah….tolong bu…kira-kira langkah kongkret apa lagi yang harus kita kerjakan demi bangsa yang terpuruk perilaku sehatnya

  2. “SEMOGA SUKSES SELALU”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: