4rss

Saatnya subsidi makan siang untuk anak sekolah di Surabaya

In Healthy Life on September 25, 2008 at 7:40 am

Setelah Pemkot Surabaya melalui dinas kesehatan meluncurkan program gemes (gerakan makan enak dan sehat) untuk mengatasi balita gizi buruk yang konon jumlahnya lebih dari 10 ribu anak, kini pemkot perlu juga melirik asupan gizi anak sekolah. Tak perlu menunggu angka ratusan atau ribuan pelajar sekolah dasar menderita gizi kurang dan buruk. Pasalnya, kebiasaan anak-anak sekolah yang sering meninggalkan sarapan pagi dengan alasan tidak sempat atau takut terlambat masuk sekolah, atau bahkan karena orang tua memang tidak membiasakannya, akan membuat anak jatuh pada kondisi gizi kurang atau bahkan buruk.

Seorang profesor dari Department of Applied Behavioral Sciences, University California-Davis Amerika Serikat sekitar 10 tahun lalu menguji ulang berbagai penelitian tentang hubungan sarapan dengan konsentrasi belajar. Ternyata sarapan dapat meningkatkan daya ingat dan mampu memperbaiki prestasi belajar. Menurutnya, kebiasaan tidak sarapan yang berlangsung dalam waktu lama dapat menurunkan status gizi dan berakibat buruk pada proses hasil belajar anak.

Sarapan pagi untuk anak-anak usia sekolah amatlah penting, karena mereka harus berkonsentrasi penuh dalam menerima pelajaran dan menjalankan aktivitas lainnya. Artinya, selama berada di sekolah, anak-anak membutuhkan energi yang cukup besar untuk menjalankan aktivitasnya. Nah, bila anak-anak berangkat sekolah dengan perut kosong, maka dapat dipastikan mereka akan sulit berkonsentrasi dalam menyerap pelajaran di sekolah, sulit berpikir, badan terasa lemah karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk tenaga, serta tidak dapat melangsungkan aktivitas fisik secara prima.

               Kondisi tersebut dapat diperparah dengan perilaku jajan anak di sekolah, yang tidak cukup memberikan asupan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhannya. Jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima memang menarik perhatian anak-anak terutama yang masih berusia sekolah dasar. Warna yang menarik, jenis yang bervariasi dan harga yang terjangkau oleh uang saku mereka, menjadi daya tarik tersendiri. Tetapi bagaimana dengan keamanan jajanan tersebut, baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi, tentu patut dipertanyakan. 
               Survei yang dilakukan BPOM Pusat tahun 2005 dan dilakukan di 18 propinsi berpenduduk padat di Indonesia menunjukkan 60 persen jajanan anak sekolah seperti minuman ringan, es cendol, dan kue ringan lainnya tidak layak konsumsi karena mengandung zat pewarna tekstil seperti rhodamin B (pewarna merah pada tekstil) dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil), serta 50 persen di antaranya mengandung unsur mikroba. Sedangkan penelitian lainnya menunjukkan bahwa makanan dan minuman yang dijual dilingkungan sekolah sering mengandung bahan tambahan pangan (BTP) yang ilegal, seperti formalin (bahan pengawet untuk mayat) dan borax (pengempal yang mengandung logam berat Boron).  Belum lagi air yang digunakan untuk  es batu sering tanpa direbus, juga tangan penjual dan wadah makanan atau  minuman yang tidak higienis.

Karena itu, suatu ide yang menarik bila program subsidi makan siang untuk anak-anak sekolah dasar di Jepang (seperti pernah dimuat di Jawa Pos, 26/9/07 ), juga diberlakukan di Indonesia, setidaknya dalam lingkup kota besar seperti Surabaya. Apalagi dalam proses penyajiannya juga melibatkan para siswa. Selain para siswa mendapatkan menu makan yang bergizi dan bervariasi, mereka juga dapat memupuk rasa saling memiliki, semangat kebersamaan, kegotong-royongan dan juga disiplin untuk tidak saling serobot, yang mana budaya tersebut kini mulai memudar dikalangan pelajar kita. Tampaknya, Pemerintah Jepang menyadari betul bahwa generasi muda yang sehat dan berprestasi adalah investasi jangka panjang yang sangat bernilai. Karena itu mereka tak segan-segan menggelontor anggaran untuk food education saja hingga sekitar Rp 9,266 triliun. Mereka pun juga sangat sadar, bahwa memelihara kesehatan dan mencegah agar warganya tidak jatuh sakit melalui pola makan sehat, ongkosnya jauh lebih murah dan penanganannya jauh lebih mudah daripada mengeluarkan anggaran untuk menyembuhkan orang yang sudah sakit dan memberantas penyakit.

Kita optimis pemkot mampu memberikan subsidi untuk makan siang anak-anak sekolah dasar se-Surabaya. Tidak perlu terlalu besar, tergantung kemampuan dari siswa-siswa sekolah tersebut. Bahkan pada sekolah yang elit, pemkot tidak perlu memberikan subsidi, cukup melalui swadaya sekolah itu sendiri. Pada sekolah non elit, dana non subsidi bisa diperoleh dari uang saku siswa setiap hari dan sponsor dari perusahaan pembuat makanan. Atau bila proses belajar mengajar berlangsung hanya setengah hari (sebagaimana pada sebagian besar sekolah dasar di Indonesia), pihak sekolah dapat memberikan makanan dan minuman ringan saja. Dengan demikian, subsidi yang diberikan oleh pemkot dapat lebih kecil lagi.

Selain itu, perlu dipikirkan pula pembuatan peraturan atau kebijakan pemkot melalui dinas pendidikan dan dinas kesehatan, untuk mendukung program tersebut. Dan yang tak kalah penting, peran serta orang tua, guru, sekolah dan semua pihak untuk menekankan pentingnya sarapan pagi dan membawakan bekal sekolah untuk anak-anaknya berupa makanan atau kue yang bergizi, tidak mengandung bahan tambahan makanan yang ilegal dan membahayakan.

Kita semua tentu berbahagia, bila anak-anak kita dan peserta didik umumnya, adalah anak yang sehat, cerdas dan berprestasi.

Oleh :

Siti R. Nadhiroh

Staf pengajar Gizi FKM Unair

  1. setuju dengan pendapat Ibu. Saya pemerhati masalah kesehatan. Pemberian makanan tambahan akan sangat bermanfaat bagi para siswa dari keluarga tidak mampu. Untuk mereka yang biasa membawa uang jajan maka kali ini uang jajannya diberikan pada sekolah untuk dibuatkan makanan yang lebih bergizi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: