4rss

Keberkahan Bulan Ramadhan

In Moments on September 26, 2008 at 8:00 am

Oleh : KH Bashori Alwi Murtadlo

Alhamdulillah, kita telah sampai di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW selalu berdoa dengan ucapan Allahumma baariklanaa fi rojaba wa sya’bana, wa baallighna ramadhan (ya Allah berilah berkah, artinya kebaikan yang banyak kepada kami, dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan).

Ramadhan adalah bulan yang penuh barakah, karena di dalamnya telah diturunkannya al-Quran. AI-Quran diturunkan dua tahap. Tahap pertama sekaligus dari al-lauhil mahfudz, ke suatu tempat yang bernama baitul izzah, di langit dunia yang dekat dengan bumi kita ini. Diturunkan sekaligus yakni 30 juz atau kalau dihitung dengan ayat 6666 ayat. Waktu diturunkannya tepat pada suatu malam yang terkenal dengan nama malam lailatul qadr. Yang pada malam lailatul qadr itu diberi nilai oleh Allah SWT lebih baik dari 1000 bulan, atau 83 tahun. Maksudnya adalah orang yang beramal baik apapun bentuknya, bertepatan pada malam lailatul qadr itu, apakah ia tahu atau tidak bahwa malam itu lailatul qadr, maka dia sama dengan mengamalkan amal tersebut terus menerus tiada henti, selama 1000 bulan atau 83 tahun. Itulah keistimewaan lailatul qadr. Yang waktunya dirahasiakan Allah. Ada yang menjelaskan dari isyarah-isyarah Hadits atau Atsar.

Salah satu dari 29 atau 30 malam itu, salah satunya adalah pasti terdapat lailatul qadr. Ada juga yang mengatakan fi’asyril awaakhir ( di sepuluh malam yang terakhir) dari bulan Ramadhan, yaitu malam 21 sampai 29. Ada pula yang mengatakan, dari sepuluh malam akhir tadi, yang ganjil-ganjil saja, yaitu malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Bahkan ada yang mengatakan malam 27 yang lebih berpeluang. Ini adalah keterangan dari Sayyidina Ibnu’Abbas, atas hasil ijtihad beliau. Mengapa beliau mengatakan begitu, karena surat al-Qadr itu seluruhnya ada 30 kalimat, atau kata. Dan 30 kata itu yang kebetulan berbunyi hiya (dia) yang dimaksud lailatul qadr, adalah yang ke 27. Jadi kalau 30 diambil 3, tiga ini diambil dari hattaa mathla’il fajr. Kemudian sebelum tiga adalah kata hiya, yang berarti lailatul qadr. Maka dari sini, lbnu ‘Abbas menetapkan, bahwa lailatul qodar itu adalah malam 27 Ramadhan. Maka tidak heran apabila di Makkah itu malam 27 Ramadhan hampir dari seluruh penjuru dunia, yang memiliki bekal umrah berebut pergi ke sana. Tentu saja tidak hanya memilih malam 27, tetapi malam-malam lainnya. Mereka mengamalkan amalan-amalan yang baik terutama malam 27, sehingga di Makkah lebih padat jumlahnya dibanding saat ibadah haji. Apalagi menurut hadits Nabi Muhammad SAW : “Umrah sekali di bulan Ramadhan sama dengan haji sekali bersama Rasulullah SAW’. Hari ini masih ada waktu dan kesempatan, barangkali para jamaah mempunyai bekal dan menginginkan untuk memperoleh pahala satu hajian bersama Rasulullah. Mudah-mudahan dapat berangkat untuk umrah Ramadhan. Amin amin ya rabbal’aalamiin.

Lailatul qadr yang saya sebutkan tadi, adalah suatu malam yang diberi nilai oleh Allah SWT lebih baik dari 1000 bulan atau 83 tahun. Mudah-mudahan kita shalat tarawih selama sebulan di bulan Ramadhan ini tidak pernah bolong, sehingga salah satu dari shalat tarawih kita, insya Allah akan bertepatan dengan lailatul qadr. Juga amal-amal yang baik lainnya termasuk sedekah dan bahkan zakat juga bisa dilakukan bagi mereka yang telah memenuhi ketentuan untuk berzakat, baik haulnya maupun nishabnya. Bahkan kalau mau takziluz zakah (menyegerakan tunaikan zakat) asal sudah cukup nishabnya itu boleh. dilakukan tiap-tiap malam, misalnya yang zakatnya sampai 10 juta umpamanya, untuk berusaha agar bertepatan zakat itu dengan malam lailatul qadr, maka bisa diberikan bertepatan dengan malam-malam di sepuluh malam yang terakhir. Misalnya 1 juta malam 21, 1 juta malam 22, 1 juta malam 23 begitu seterusnya. Kemudian disampaikan kepada mustahiq (yang berhak menerima) ditempatkan pada malam hari, jangan sampai siang hari. Insya Allah salah satu dari zakat itu adalah akan bertepatan dengan malam lailatul qadr.

Yang baik tentu saja zakat yang tidak menimbulkan mala petaka seperti yang terjadi di Pasuruan. Itu suatu pelajaran bagi kita. Kalau kita mau zakat agar mengikuti mekanisme yang baik menurut agama, dan oleh agama, maka sebaiknya memanfaatkan juga lembaga-lembaga yang sudah ditentukan yakni amil-amil atau lembaga penghimpun zakat yang diwajibkan untuk menyampaikan hal itu. Begitulah tentang kebaikan dan berkah, bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda : lish shaaimi farhataani, farahatun ‘indal fitri, wa farhatun ‘inda liqaai robbi (bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan yang pertama waktu berbuka puasa atau berhari raya, kegembiraan kedua ketika bertemu dengan Allah). Berbuka atau berhari raya itu sama dengan mendatangi hidangan Allah SWT, jamuan Allah SWT. Yang kedua ketika bertemu dengan Allah, yaitu ketika di surga di mana kita akan ditemukan Allah SWT, yang caranya terserah Allah SWT. Sebelum sampai ke sana cuma kita percaya bahwa nanti kita berjumpa dengan Allah SWT. Mudah-mudahan kita kita semua tergolong orang-orang yang disebutkan oleh hadits tersebut. Amin.

Selanjutnya tahap yang kedua yaitu dari lauhil mahfudz, dari baitul ‘izzah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada waktu beliau di gua Hira yaitu pada surat al-‘Alaq ayat 1-5. Diturunkan oleh Allah SWT tidak sekaligus, melainkan sedikit-sedikit atau berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Dan selama itu tiap turun diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya, kemudian diajak mengamalkannya, jadi setelah mantap baru diturunkan yang lain lagi. Begitu seterusnya atau terkadang diturunkan karena ada sebab-sebab, yang memerlukan penjelasan dari al-Quran.

Dan perlu juga kita ketahui dan, kita syukuri, bahwa turunnya al-Quran, yang tahap kedua, yaitu yang sudah dikenal dengan malam 17 Ramadhan itu bersamaan juga dengan pertolongan Allah SWT kepada kaum muslimin dalam peperangan yang pertama, yaitu perang Badar. Untuk mempertahankan agama, karena pada saat itu umat Islam yang minoritas sering diganggu oleh orang-orang kafir Quraisy. Kemudian diizinkan oleh Allah SWT untuk mempertahankan dan menyerang mereka, agar mereka tidak terus j menerus merusak Islam. Itu terjadi tepat pada 17 Ramadhan.

Jadi kalau kita memperingati Nuzulul Qur’an sebaiknya sekaligus juga kita memperingati kemenangan kaum muslimin yang pertama, dalam perang Badar, sebagaimana diterangkan dalam sejarah. Rasulullah dan semua kaum muslimin dalam mempertahankan agamanya dalam bentuk perang itu memperoleh kemenangan yang cukup signifikan. Dan akhirnya mereka yang telah sadar itu masuk Islam, sehingga dalam waktu singkat hampir seluruh negeri Arab atau Saudi sekarang, masuk Islam. Kemudian dilanjutkan oleh khalifah-khalifah berikutnya sehingga hampir di belahan jazirah Arab dan dunia timur masuk Islam.

Di Indonesia Islam dibawa oleh para Wali Songo, hingga kita semua menjadi orang Islam. Alhamdulillah. Mudah-mudahan amal mereka semua diterima oleh Allah SWT.

Perlu juga saya sampaikan bahwa di baitul ‘izzah yang terdapat 30 juz al¬Quran tadi dijaga oleh para malaikat petugas-petugas dari Allah yang terkenal dengan nama as-safaratul kiroomil bararah (malaikat penjaga al-Quran, yang mulia-mulia dan yang baik-baik). Kemudian Allah juga mentaqdirkan di dunia ini banyak juga orang yang pangkatnya sama dengan safaroh mim bararah, malaikat penjaga AI-Quran tadi. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW; – al maahir bil quraan ma’assafarotil qiroomil baroroh, (orang yang mahir membaca AI-Quran maka dia bersama malaikat Safarah). Kalau di dunia ini pangkatnya, tetapi nanti kalau di akhirat bersama-sama tempatnya dengan malakat Safarah.

Oleh karena itu, mudah-mudahan kita atau anak-anak kita berhasil dalam berusaha menjadi orang yang mahir membaca al-Quran. Tetapi perlu disampaikan, bahwa mahir itu bukan hanya membacanya saja, sebab banyak juga orang-orang yang mahir membaca, tetapi ahli maksiyat, ada juga mahir bacanya tetapi jadi pencuri. Tetapi yang dimaksud adalah mahir bacaannya dan mahir akhlak serta amalnya sesuai dengan yang dibacanya.

Itulah yang dimaksud al-maahiru bil quran (pandai al-Qur’an), apalagi kalau dia bisa mahir, hafal dan bisa memelihara al-Quran dengan baik.

Mudah-mudahan kita dan anak¬anak turun kita menjadi orang-orang yang mahir dan berakhlaq al-Quran. Sehingga bisa menjadi generasi negeri yang Qur’ani sehingga bisa jadikan negeri ini baldatun thayyibatun warabbun ghafuur.

Inilah yang perlu disampaikan mudah-mudahan bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: